Aktivitas Presiden Sukarno pada 30 September 1965

1264
1
Share:

Apa yang dilakukan Presiden Sukarno ketika Jakarta bergejolak akan Gerakan 30 September 1965? Ternyata, pagi harinya, beliau beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi sebelum pukul 05.00, sembahyang, minum kopi, lalu berangkat ke Istana. Dan Kamis itu, Bung Karno tengah bersiap memberi pidato pada kongres Persatuan Insinyur Indonesia di Senayan.

Istrinya, Ratna Sari Dewi Soekarno, juga bersiap diri untuk acara resepsi Duta Besar Italia. Kemudian, pukul 21.00, Ratna Sari pergi ke acara makan malam Duta Besar Iran di Nirwana Supper Club, Hotel Indonesia. “Hampir semua diplomat asing di Jakarta ada di sana,” kata Ratna Sari Dewi pada Majalah TEMPO dalam tulisan Kisah-Kisah Oktober 1965, edisi 6 Oktober 1984.

Sekitar pukul 23.00, seorang pria menjemput Ratna Sari Dewi. Dia adalah ajudan Bung Karno, Suparto. Kata si ajudan, Soekarno telah menanti istrinya di mobil. Mengikuti utusan sang suami, Ratna Sari Dewi meninggalkan acara, bergeser ke kediamannya di Wisma Yaso, kini Museum Satria Mandala. “Malam itu tidak ada yang berbeda. Bapak (Bung Karno) istirahat, saya menjaganya,” ujar Ratna Sari Dewi.

Semuanya berjalan wajar. Tak juga ada kabar seputar Gerakan 30 September 1965. Bahkan menurut dia, tidak benar bila pagi itu ada telepon yang memberi tahu adanya kudeta. “Setahu saya, Bapak baru tahu soal penculikan jenderal dalam perjalanannya ke Istana,” ujar Ratna Sari Dewi.

Ia sendiri baru mengetahuinya sekitar pukul 09.00. Ketika itu sejumlah kerabat dan teman menghubunginya lewat telepon. Mereka sampaikan, rumah Dr. Johannes Leimena dan Jenderal Abdul Haris Nasution diserang tentara bersenjata lengkap. “Saya panik. Khawatir karena tidak tahu keberadaan Bapak (Bung Karno) pagi itu,” kata dia.

Setelah itu, Presiden Soekarno dilarikan ke Halim Perdanakusuma. Ia dijauhkan dari Istana Negara yang kala itu sudah dikepung tentara. Tapi keberadaan Bung Karno di landasan udara militer itu tidak lama. Tak lebih dari 12 jam.

Pada 1 Oktober 1965 malam, Soekarno didesak meninggalkan Halim. Si pendesak adalah ajudannya, Bambang Wijanarko. Tapi tuntutan itu sendiri bukan inisiatif Bambang. Melainkan bisikan dari Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soeharto.

Melalui Dr Johannes Leimena, Bambang menyatakan Bung Karno harus segera pergi dari Halim. Alasan Bambang, malam itu atau esok pagi, Halim pasti diserbu.

“Saya perintahkan kendaraan disiapkan. Sekitar pukul 23.00, saya, pengawal pribadi Bung Karno, Pak Leimena, dan Presiden Soekarno naik ke mobil,” kata Bambang dalam artikel majalah Tempo edisi 6 Oktober 1984, berjudul “Kisah-kisah Oktober 1965”.

Waktu itu, ada juga Kepala Staf TNI Angkatan Udara Omar Dhani. Tapi dia tidak tahu rencana Bambang. Omar mengira Soekarno bakal menuju landasan terbang. Karena mobil Bung Karno penuh, Omar pun menumpang kendaraan lain.

Tapi, sesampai di simpang tiga, Bambang menyuruh sopir agar tetap lurus. Padahal lapangan terbang ada di kanan jalan. “Waktu Bapak (Bung Karno) bertanya, ‘Mbang, kita mau ke mana?’, saya diam saja. Dia tanya sampai tiga kali,” ujar Bambang.

Ajudan Bung Karno itu baru menjawab pertanyaan Presiden kala Leimena menepuk pundaknya dari belakang. Akhirnya, Bambang jelaskan bahwa mereka menuju Istana Bogor. Mendapat jawaban itu, Bung Karno kembali bertanya. Apa alasannya? Dan Bambang memberikan tiga sebab: menurut perhitungan taktis, Halim tak lama lagi pasti akan diserang; tidak meninggalkan Halim menggunakan pesawat terbang sebab si pilot bisa menyasarkan tujuan; dan lokasi tujuan jangan terlalu jauh dari Jakarta agar masih bisa memantau Ibu Kota.

“Saya tidak katakan bahwa Pak Harto yang memerintahkan saya untuk segera mengusahakan Bung Karno pergi dari Halim,” ujar Bambang.

Pukul 24.00 lewat sedikit, kendaraan Bung Karno memasuki gerbang utara Istana Bogor. Kata Bambang, semua mulai bisa bernapas lega. Ketika Bung Karno telah duduk di dalam Istana, Bambang berkata bahwa tugas dia mengamankan Presiden sudah usai. Langkah selanjutnya, terserah Bung Karno.

Lalu Bambang pergi ke kantornya di sebelah Istana Bogor. Ia langsung menelepon Soeharto, “Pak, mission is accomplished. Bapak sudah meninggalkan Halim dan sekarang ada di Istana Bogor,” ujar Bambang. (Sumber sejarah ri, bacaan: Tempo)

Share:

1 comment

Tinggalkan Balasan