Ahmad Wahib: Tuhan Bukanlah “Daerah Terlarang” Bagi Pemikiran

1448
0
Share:

“Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran,”~Ahmad Wahib

Ahmad Wahib lahir di Sampang, 9 November 1942, meninggal di Jakarta, 31 Maret 1973 pada umur 30 tahun dikenal sebagai pemikir dan pembaharu Islam.

Ia lebih dikenal berkat catatan hariannya. Catatan itu menjadi buku Pergolakan Pemikiran Islam (2004) oleh Djohan Effendi dan Ismet Natsir. Dalam catatannya, Wahib mencoba mempertanyakan apa yang sudah ia yakini selama ini mengenai Tuhan, ajaran Islam, masyarakat Muslim, ilmu pengetahuan dan lain-lain.

Dalam satu wawancara, Douglas E. Ramage, seorang Indonesianis lulusan University of South Carolina menyebut Wahib sebagai salah satu pemikir baru Islam yang revolusioner. Ia menulis demikian: Lebih baik ateis karena berpikir bebas daripada ateis karena tidak berpikir sama sekali.

Ungkapan itu untuk memberi jawaban kepada orang-orang yang menyatakan bahwa berpikir tentang Tuhan itu Haram. Ahmad Wahib membentuk dirinya menjadi seorang muslim yang mau berpikir merdeka tentang Tuhan.
Wahib berkata, “Menjadi seorang muslim emosional saja tidak cukup, karena itu berfikir bebas dan bersikap terbuka merupakan suatu keharusan yang tak bisa ditawar-tawar (h.74).

Pemikiran dan visi yang benar tentang Tuhan yang benar mempermudah praktek hidup keagamaan yang benar. Walaupun kita mengatakan diri kita seorang sebagai penganut Islam, belum tentu bahwa pikiran kita telah berjalan sesuai Islam (h.23).

Ahmad Wahib nampaknya melihat bahwa kedangkalan hidup beragama sangat dipengaruhi oleh keterbatasn visi tentang Tuhan. Iman pada Tuhan pun menjadi dangkal aplikasinya. Relasi dalam berkehidupan sosial harus menjadi pisau cukur untuk memangkas klaim-klaim beriman kepada Tuhan, khususnya kepada mereka yang beriman secara radikal.

Bahwa beragama dan/atau beriman itu harus terlihat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam praksis hidup (real dan bisa dievaluasi). Pada akhirnya, keberanian untuk berpikir dan bervisi membuka wacana tentang ketuhanan akan membantu manusia itu sendiri untuk memurnikan motivasinya menjadi pengikut Tuhan yang benar dengan benar.

Ahmad Wahib melihat bahwa nilai-nilai Islam itu sendiri tetap, sedangkan penafsiran terhadap isi tiap-tiap nilai itulah yang dinamis. Kalau ada perubahan tentang apa saja nilai-nilai Islam itu, masalahnya bukanlah karena nilai-nilai itu sendiri yang berubah melainkan karena pengetahuan manusialah yang berubah dalam mencari-cari nilai itu (h.67).

Sepantasnyalah kita belajar dari situasi zaman! Beriman kepada Tuhan secara kontekstual.  Nilai-nilai yang terdapat dalam agama itu hendaknya menyata dalam hidup sehari-hari tanpa menciptakan sekat atau distingsi yang tak perlu.

Ahmad Ahwib dalam “Catatan Harian” yang kontroversial masih aktual untuk kondisi religiusitas kita. Berani berpikir merdeka untuk memerdekakan diri. Sehingga beragama menjadi kerinduan untuk mendekat kepada Tuhan: di mana hati terarah ke surga dan kedua kaki tetap berpijak di bumi.

Agar agama itu tidak menjadi sesuatu yang entah karena makin miskinnya sumbangannya kepada kemanusiaan. Agar keberadaan agama itu dirasakan kembali manfaatnya menjadi ladang subur bibit-bibit spritualitas hidup. Agar pemeluknya menjadi manusia-manusia merdeka yang otentik dan utuh sebagai makhluk rasional.

Pada tanggal 31 Maret 1973, Ahmad Wahib meninggal dunia karena ditabrak sepeda motor di depan kantor majalah Tempo, tempat di mana ia bekerja sebagai calon reporter.

(Diolah dari berbagai sumber, sumber utama: Wahib, Ahmad, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, LP3ES dan Freedom Institute, Jakarta 2003)

 

 

Share:

Tinggalkan Balasan