Ahed Tamimi, Remaja Ikon Perjuangan Palestina

Share:

Ahed Tamimi mengingatkan dunia atas aksi heroik Rachel Corrie. Mahasiswi asal Washington, Amerika Serikat (AS), aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam International Solidarity Movement (ISM). Dia tewas setelah tubuhnya dilindas buldoser karena dianggap menghalangi misi tentara pertahanan Israel menghancurkan perumahan di Rafah, Gaza.

Corrie sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Dalam laporan dokumenter oleh Channel4, seorang saksi yang juga aktivis ISM, Joe Smith Carr, mengatakan Corrie duduk di depan buldoser yang akan menghancurkan rumah di Rafah. Namun, kemudian alat berat itu mengangkat Corrie dan menghempaskannya ke tanah, lalu buldoser melindas tubuh Corrie dua kali. Yasser Arafat, presiden Palestina saat itu, mengungkapkan rasa duka mendalam atas tewasnya Corrie.

Lalu bagaimana dengan kisah heroik nan berani dari Ahed Tamimi?

Baru berusia 16 tahun, Ahed Tamimi menjadi perhatian dunia internasional ketika dengan berani dia melayangkan bogem ke tentara Israel. Dua tahun lalu, dia menggigit tentara Israel yang berusaha menangkap adiknya.

Ahed Tamimi

foto: bbc.com

Sebelum itu, ketika berusia 11 tahun, tanpa takut, dia mengepalkan tangan dihadapan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).   Dunia pun kagum akan keberaniannya. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri mengganjarnya dengan penghargaan Handala Courage.

Namun, menjelang fajar pada Selasa, 19 Desember 2017, Tamimi diciduk otoritas Israel di rumahnya di Nabi Saleh, Tepi Barat. Tempo penahanan Tamimi kembali diperpanjang selama empat hari. Ayah Tamimi, Bassem, serta keluarganya sejauh ini tidak diizinkan bertatap muka dengannya.

Ibu Tamimi, Nariman, juga di tahan otoritas berwenang Israel saat menjenguk putrinya di pusat penahanan Binyamin. Pemerintah Israel menuduh Nariman melakukan penghasutan dengan merekam perlawanan Tamimi terhadap petugas Israel di luar rumahnya selama operasi penggerebekan.

Sepupu Tamimi, Nour, 21, juga dijebloskan ke dalam bui. Bassem pun tak luput dari perhatian Israel. Dia diinterogasi selama dua jam. Bassem, ayah Tamimi, mengatakan putrinya dan Nour terpaksa bersikap keras sebagai perlawanan karena sepupu mereka, Mohammad, 15, ditembak peluru karet di bagian wajah dan mengalami koma selama 72 jam.

Ditahan

Pengacara Tamimi, Gabi Laski, mengatakan kliennya ditahan di HaSharon, Israel.  Oleh militer Israel, Ahed digugat dengan 12 dakwaan yang meliputi penyerangan dan pelemparan batu. Nour dan ibu Ahed—yang merekam adegan tersebut—juga digugat.

Rekaman video yang menampilkan aksi Ahed dan sepupunya beredar luas di Palestina dan dunia. Banyak warga Palestina menganggap Ahed sebagai pahlawan dalam perlawanan terhadap pendudukan Israel.

Sebab bukan sekali itu saja tindakan Ahed menjadi pemberitaan dan viral. Pada 2015, muncul lagi sebuah foto yang menggambarkan dirinya mengenakan kaos Tweety menggigit tangan seorang tentara Israel untuk menghentikan penangkapan saudara laki-lakinya.

Penangkapan Ahed karena menampar tentara Israel menuai banyak perhatian dari kedua pihak. Presiden Palestina Mahmoud Abbas menelepon Bassem dan memuji perlawanan keluarga Tamimi terhadap pendudukan Israel.

Ahed Tamimi

Aksi Ahed menuai dukungan terhadap Palestina, dan tuduhan kepada pemerintah Israel yang menahan seorang remaja yang membela hak-hak sesama warga Palestina. Aktivis Palestina Issa Amron lewat akun Twitter-nya mengatakan para wanita dan gadis Tamimi tidak takut pada tentara. Mereka tidak takut dipenjara. Mereka mengabdi pada perjuangan hingga kita semua merdeka.

Bassem Tamimi, Ayah Ahed, Bassem adalah aktivis terkemuka Palestina, menyebut putrinya adalah seorang yang pemalu, tapi memiliki kedewasaan untuk menolak penjajahan secara bertanggung jawab.

Ahed pernah bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional. Namun memutuskan untuk belajar ilmu hukum guna membela keluarga serta desa melawan penjajahan Israel yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun.

Pengacara Tamimi, Gaby Lasky mengatakan yakin mereka ingin menahan dia (Ahed) selama mungkin, karena mereka tidak menginginkan perlawanan di luar penjara, seperti dilaporkan Reuters di pengadilan militer, Penjara Ofer dekat Ramallah, Palestina.

Walaupun kini dia berada dalam tahanan, dunia berada di belakang Tamimi lantaran dianggap sebagai simbol resistensi generasi muda Palestina karena memiliki nyali besar. Di balik bui pun, Tamimi konsisten menyuarakan ketimpangan sosial yang diakibatkan penjajahan berkepanjangan Israel. Ini bukan kali pertama Tamimi mengonfrontasi pasukan Israel.

Ahed kini terkenal sebagai remaja Palestina penampar tentara Israel. Namun aksi melawan pendudukan Israel telah berlangsung lama.

Penjara Anak

Perjalanan antar penjara sering membuat tahanan merasa kelelahan secara fisik atau pun emosional. Tahanan Palestina juga biasanya diborgol dan dibelenggu. Pemindahan tahanan dari wilayah penjajahan menuju Israel diprotes karena melanggar hukum internasional.

Grup Addameer menyatakan sebanyak 60% tahanan anak-anak Palestina dibawa ke Israel. Banyak tahanan di bawah umur itu yang diinterogasi dan disiksa. Mereka mengalami memar, trauma, dan kekurangan tidur.

Tahanan anak-anak Palestina sering dipaksa menandatangani dokumen yang tertulis dalam bahasa ibrani yang tidak mereka pahami. Perlindungan untuk Anak Internasional (DCI) juga menyatakan 72% tahanan anak-anak Palestina antara tahun 2012-2016 disiksa secara fisik dan 66% dicaci maki.

Mari kita perjuangkan Ahed Tamimi yang lahir 30 Maret 2001 supaya dibebaskan! Ayo bersuaralah dunia! Bebaskan Ahed Tamimi! (redaksi/berbagai sumber)

 

 

Share:

Tinggalkan Balasan