Adu Sakti Sultan Agung dan Kyai Bodho

946
0
Share:

Rifqi H 

Master Jurusan Komunikasi di Jiangxi Normal University, Aktivis JIMM

Waktu kecil dulu, saya sering mendengar cerita tentang pekathik atau tukang rumput yang mengabdi pada Sultan Agung. Pekathik itu kerjaan sehari-harinya memberi makan kuda kelangenan Raja Mataram Islam yang bergelar “Sultan Agung Senapati Ing-Ngalaga Abdurrahman”.

Dari gelarnya saja, setidaknya ada tiga predikat menempel pada Sultan Agung, yaitu bangsawan, ulama. dan panglima perang. Predikat istimewa itu tampaknya berbanding lurus dengan banyaknya legenda tentang Sultan Agung yang kadang terasa tak masuk akal. Salah satunya cerita tentang “pekathik” bernama Kyai Bodho ini.

Alkisah, sebagai figur penting dalam Islamisasi Jawa, Sultan Agung memiliki kebiasaan Sholat Jum’at di Mekkah, bahkan dia bercita-cita dimakamkan di kota suci Islam itu. Dengan kesaktiannya, Sultan Agung menempuh perjalanan Mataram-Mekkah dalam waktu singkat, sehingga tak pernah absen jum’atan di Masjidil Haram. Kebiasaan itu mulai terusik ketika suatu saat Sultan Agung melihat Kyai Bodho mencari rumput di Mekah. Ketika balik ke Mataram, ternyata Kyai Bodho sudah lebih dulu tiba di Mataram.

Tentu saja itu membuat Sultan Agung terheran-heran. Mana mungkin abdinya itu memiliki kesaktian lebih tinggi darinya. Mana mungkin dia menempuh perjalanan Mataram-Mekkah lebih cepat darinya, yang notabene seorang raja, panglima perang dan tokoh agama. Masih belum yakin, Sultan Agung menyimpan sendiri pengalaman itu. Sampai jumat berikutnya, Sultan Agung kembali melihat Kyai Bodho tengah menyabit rumput di Mekkah. Kali ini, Sultan tak bisa menahan rasa penasaran, dan bicara langsung dengan Kyai Bodho.

“Kyai Bodho, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sultan Agung.
“Hamba mencari rumput, paduka,” jawab Kyai Bodho jujur.
“Kenapa mencari rumput sampai ke Mekkah? Bukannya Mataram lebih subur?” penarasan Sultan.
“Hamba adalah abdi. Kalau Sultan suka Mekkah, saya pun suka Mekah,” jawab Kyai Bodho.

Konon seiring dialog itu, Kyai Bodho melempar segumpal tanah ke arah timur. Tanah itu meluncur melampaui daratan dan samudera, jatuh di salah satu kawasan Mataram. Sultan terkejut bukan kepalang melihat kemampuan Kyai Bodho. Sekembalinya ke Mataram, Sultan Agung merenungi perkataan Kyai Bodho, berikut predikatnya sebagai Raja Mataram, panutan segenap rakyatnya. Kalau dia lebih mencintai Mekkah, dan rakyatnya ikut berbondong-bondong ke Mekkah, Mataram akan kehilangan manusia-manusianya.

Akhirnya, Sultan Agung berubah pikiran. Sholat Jum’at adalah majelis tempat dia berkumpul, bukan malah mengasingkan diri dari rakyatnya. Dia juga mengurungkan niat untuk dimakamkan di Mekkah, dan memutuskan kelak kalau mati, jasadnya akan ditimbun tanah Mataram. Untuk mengobati kerinduannya pada kota suci, dia mencari tanah yang dilempar Kyai Bodho. Ternyata, tanah itu jatuh di daerah Imogiri dan dia pun memutuskan daerah itu sebagai area pemakaman raja-raja Mataram.

Di kalangan orang-orang sepuh Jogja, cerita ini masih beredar dari mulut ke mulut. Satu catatan kaki dari kisah itu, yakni identitas Kyai Bodho yang konon seorang Wali. Menurut para guru ngajiku dulu, kewalian seseorang tak bisa dilihat dari ukuran-ukuran mainstream. Dia tak selalu berjubah panjang, berujar Arab, dan seterusnya. Sebaliknya, bisa jadi seorang wali menampilkan diri dengan identitas yang jauh dari stereotype mainstream. Dia bisa menampakkan diri sebagai rakyat jelata, gelandangan, bahkan orang gila sekalipun.

Dalam kisah Kyai Bodho di atas, justru dengan berperan “pekathik” dia bisa menyadarkan Sultan Agung, agar tak kehilangan identitas sebagai raja Mataram. Peran Kyai Bodho ini mungkin mirip Nabi Khidir, petualang nomaden tanpa status Rasul, tapi kemampuannya tak kalah dari Musa yang notabene penyandang predikat Ulul Azmi.

Dari kisah-kisah ini, kadang aku juga kepikiran kalo Billy Joe Armstrong, vokalis Green Day itu jangan-jangan mereka juga wali. Buktinya, lagu-lagu dia banyak banget yang melampaui masanya.

 

Share:

Tinggalkan Balasan