Ada Apa Dengan Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan

1252
0
Share:

Hari-hari ini cuaca di Kota Jakarta seringkali mendung, hujan, dan angin kencang. Namun kisah ini tentu tak ada hubungannya dengan hujan dan angin kencang yang sering menimpa Jakarta. Inilah kisahnya. Namanya Ananda Sukarlan. Ia walk out saat Anies berpidato ketika hadir sebagai tamu undangan dalam acara peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (11/11/2017).

Saat itu Ananda Sukarlan hadir sebagai alumnus Kolese Kanisius dan terpilih untuk menerima penghargaan. Ananda walk out karena sosok Anies yang diundang pada acara itu dinilai tak mencerminkan nilai-nilai ajaran Kanisius.

Seusai Anies berpidato dan meninggalkan ruangan, Ananda bersama sejumlah alumnus lain yang walk out kemudian kembali ke ruangan. Ketika memberikan sambutan terhadap penghargaan yang dia dapatkan, Ananda mengkritik panitia yang mengundang sosok yang tidak mencerminkan ajaran Kanisius.

Ananda Sukarlan mengkritik panitia karena mengundang seseorang yang mendapatkan jabatan dengan cara-cara dan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Kanisius. Namun, ia tidak menyebut nama Anies Baswedan. Siapakah Ananda Sukarlan ini, dan bagaimana riwayat hidupnya, kok berani banget?

Ananda Sukarlan adalah komposer ternama. Ia lahir di Jakarta, 10 Juni 1968. Ia menjadi satu-satunya orang Indonesia dalam buku “The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century”, yang berisikan riwayat hidup 2000 orang yang dianggap berdedikasi pada dunia musik.

Ananda Sukarlan juga dikenal sebagai pendidik, penulis, dan aktivis kebudayaan Indonesia. Ia juga telah bekerjasama dengan Fundacion Musica Abierta untuk membuat musik bagi anak-anak cacat (disabled). Apa yang telah ia pelajari di periode itu kini ia usahakan untuk diwujudkan di Indonesia, antara lain lewat yayasan yg didirikannya bersama beberapa rekan yang lain, Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI).

YMSI bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan musik klasik di Indonesia. Salah satu programnya adalah ‘Children In Harmony’ (CHARM), yaitu memberikan pendidikan musik klasik gratis (beasiswa) kepada anak-anak usia muda untuk belajar musik klasik di Jakarta. Selain CHARM juga ada program ‘Music For Humanity’, yaitu program musik klasik melalui konser atau seminar musik untuk membantu sesama, melalui penggalangan dana ataupun berpartisipasi dalam kegiatan berbagi untuk kemanusiaan dan perdamaian.

Ananda telah belajar bermain piano sejak kecil. Selulusnya dari SMA Kolese Kanisius Jakarta pada tahun 1986, ia belajar ke Amerika Serikat, dilanjutkan ke Den Haag, Belanda. Di tempat terakhir ini ia meraih master dengan predikat summa cum laude. Kesempatan bersekolah di Eropa ini dipakainya untuk mengikuti berbagai kompetisi piano internasional.

Sebagai pianis, ia telah memenangkan banyak kompetisi internasional di masa mudanya, yang membawanya ke karier musik internasional yang gemilang. Sampai saat ini ia telah memperdanakan lebih dari 300 karya baru yang ditulis khusus untuknya oleh komponis-komponis dunia.

Musik-musik tersebut menggunakan elemen-elemen etnik Indonesia yang telah diperkenalkan oleh Ananda Sukarlan. Selama periode 1995-2006 ia mengadakan minimal 50 konser setahun di seluruh bagian dunia dihadiri oleh para anggota kerajaan dan para pejabat tinggi banyak negara, dan sejak 2006 ia mengurangi kegiatan konsernya untuk lebih berkonsentrasi ke menulis musik.

Saat ini ia sudah mengeluarkan 14 Compact Discs, beberapa diantaranya telah memenangkan penghargaan di Spanyol. Sebagai komponis, karyanya telah banyak dipesan dan dimainkan di benua Amerika dan Eropa.

Sebagai seorang komponis yang produktif, karyanya mencakup hampir semua instrumen. Karya nya yang terbanyak adalah karya untuk vokal yang saat ini berjumlah lebih dari 200 lagu. Musiknya telah banyak ditulis sebagai bahan desertasi dan tesis doktoral di beberapa universitas dunia.

Karyanya yang paling terkemuka adalah Rapsodia Nusantara yang sangat virtuosik untuk piano yang kini berjumlah 21 nomor, yang mana setiap nomor didasari oleh musik rakyat dari satu provinsi di Indonesia. Nomor-nomor tersebut telah dimainkan oleh ratusan pianis baik dari Indonesia maupun internasional.

Demikian kisah singkat tentang Ananda Sukarlan. Kembali ke soal kenapa Ananda walk out. Katanya itu merupakan sikap pribadi, bukan sikap alumnus Kanisius. Lantas bagaimana respon Anies Baswedan mengenai sikap Ananda Sukarlan itu?

Kabarnya, Anies Baswedan tidak mempermasalahkan. Dalam sebuah berita di portal, begini kata Anies, “ia akan menyapa semua, mengayomi semua. Kalau kemudian ada reaksi negatif, ya itu bonus aja buat saya. Enggak ada sesuatu, biasa aja, rileks”. Nah, bagaimana sepak terjang dan riwayat Gubernur Anies ini? Baca di sini Dilantik Lalu Dicopot, Eh Terus Dilantik Lagi, Siapakah Dia?

Lalu, ada apa dengan Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan? Ya begitu deh, biasa aja, rileks.

Sumber:

Wikipedia

Kompas

Share:

Tinggalkan Balasan